Minggu, 19 Desember 2021

FACEBOOK SEPTEMBER 2021

 

Pasanganmu...
Dia bukan milikmu, engkau bukan miliknya
Pasanganmu...
Bukan untuk dicintai, engkaupun tak perlu Cintanya
Pasanganmu...
Adalah Cinta yang Mengejawantah Nyata
Hadirlah Bersamanya

 
 
Penutupan pameran pembangunan Entah kenapa menguras air mataku malam ini, tapi bukan pameran ini penyebabnya... Pameran Pembangunan di Jeneponto yg pernah diadakan di Jl. Kesehatan puluhan tahun yg lalu yg membuatku tak sanggup membendung air mataku. Saat itu sy masih SD, Malam itu saya menangis terisak didepan rumah karena ditinggal bapakku berangkat kepameran setelah 3 hari sudah dia menjanjikannya. Mungkin karena tak tega melihatku, Nenekku yg sudah Renta (Nenek Ja'i, nenek dari ibuku) menghampiriku, mengelus belakangku dan berkata "Maemoko nak naku urangko naik ribontosunggu, kemudian dia bergegas mengganti sarung yg seharian sudah dipakainya dengan sarung lain yg sebenarnya juga lusuh, memakai kemeja bunga2 berwarna biru yg warnanya sudah memudar. Tak ada yg bisa membahagiakanku lebih dari apapun malam itu, apalagi nenek ja'i juga mentraktirku dengan setusuk bakso dan seikat balon berwarna merah. Isak tangisku malam ini ternyata lebih hebat daripada tangisanku di depan rumah malam itu ketika memikirkan begitu Sabarnya Nenekku menuntunku dari rumah, dipameran, dan perjalanan pulang tanpa seraut keluhanpun dimukanya padahal malam itu kami kesana dengan berjalan kaki..... Betapa engkau tak memikirkan rasa capek demi melihat senyum bahagia di mukaku.... Kasih sayang tulus yg mungkin tak akan pernah kutemui lagi, dan itu yg membuatku berat meninggalkan jeneponto tanpa menyapa Makammu di Bungkeke Nenekku yg Tercinta.... Ila Hadrati Ja'i binti Buntuli ... Al Fatihah...!!!  
 
 
Sadarkah Kita...
Sadarkah kita?
Jika selama ini kita berfikir, kita berucap dan bertindak karena lintasan lintasan kata kata, keinginan dan rasa yang berasal dari dalam diri?
Apapun yang ada diluar diri bisa menjadi Trigger atau Pemicu, tapi tetap saja penentunya adalah kata kata, keinginan dan Rasa yang berasal dari Ruang Diri.
Jika ada yang mencaci dan memakimu, responmu akan tergantung dari suara apa yang keluar dari Ruang Dirimu...
Jika suaranya "Berani beraninya dia memakiku, dasar tak tau diri, belum tahu dia siapa Aku...!!! Tentu pertengkaran atau perkelahian tinggal nunggu waktu.
Jika suaranya "Kasian dia, mungkin dia lagi ada masalah dirumah atau dipekerjaannya... bisa jadi kita akan tanggapi dengan senyum penuh pengertian.
Jika suaranya "Ini orang marah kumisnya kok mirip jojon, mulutnya lucu baget monyong monyong gitu... bisa jadi kita malah nahan tawa liat dia marah... 😂😂😂
Pertanyaannya, Dari mana Asal Suara Suara di Diri Ini??? Siapa dia??? Kok ada Orang yang Suara suara yang muncul dari dirinya Kalem kalem aja, ada yang lucu lucu,tapi ada juga yang Baperan dan Emosian???
Mari Merenung... 🤣🤣🤣🤣🤣
Jika kita merenung dengan benar kita akan menyadari bahwa suara suara di diri dibuat oleh kita dimasa lalu... Dari Info, dogma dan keyakinan yang kita tanam di bawah sadar kita, kebiasaan kebiasaan kita serta dari apa yang kita baca dan kita dengar. Karena itu menjadi tidak mudah untuk melepaskan diri dari jeratan masa lalu... Sebagian besar ucapan dan perbuatan kita masih dikendalikan oleh masa lalu.
Itu baru salah satu aspek dr Masa Lalu... Kapan kapan kita sharing sharing tentang masa depan... 👍👌🤩  


Pikiran melihat kehidupan sebagai pergerakan masa lalu, saat ini dan masa depan. Melihat kehidupan dengan cara inilah yang memunculkan suka dan duka, senang dan nestapa, serta bahagia dan derita. Pergerakan inilah yang oleh banyak orang bijak disebut sebagai ilusi.
Suka, bahagia dan senang hadir karena harapan masa lalu yang terpenuhi dimana jika harapan itu tidak terpenuhi maka duka, derita, dan nestapa yang akan terasa.
Suka, bahagia dan senang hadir karena optimisme akan masa depan yang cerah dimana jika yang terasa adalah ketakutan dan kekhawatiran akan masa depan maka duka, derita dan nestapa yang akan menemani.
Kita terjebak dalam ilusi masa lalu yang kita pikir eksist padahal sudah tak ada kerena kita memiliki memori dan kita terperangkap dalam ilusi masa depan yang kita pikir eksist padahal belum ada karena Prasangka. Sejatinya baik masa lalu ataupun masa depan keduanya Tak Ada.
Sebagian besar Manusia hidup di masa lalu dan masa depan yang sejatinya tak ada, maka bagaimanakah dirinya akan tenang dan damai menjalani kehidupan sedang dirinya melayang mengawang awang tanpa ada tempat untuk berpijak???
Untuk bisa berpijak dan mengalami ketenangan dan kedamaian, diri hanya perlu hadir di saat ini. Satu satunya tempat dimana Realita, Kenyataan, Kebenaran dan Eksistensi Sejati bergerak mendukung kehidupan dari saat ini ke saat ini berikutnya tanpa tercemari oleh masa lalu dan masa depan.
Pahami ini anak muda, mengalami kehadiran di saat ini adalah mencicipi Air Suci yang akan membuatmu menyadari Rasa dari Keabadian... Setelah mengatakan itu beliau memelukku erat dan lama sambil sesekali mengelus punggungku. Ketika pelukannya beliau lepaskan, senyum tulus yang sangat manis di mukanya adalah hal terakhir yang saya lihat sebelum beliau beranjak meninggalkan ku yang masih mematung terpaku.
Kakek yang aneh itu sangat mirip dengan diriku, saya tak menyadari dari mana dia datang karena seperti tiba tiba saja dia ada di depanku dan seperti kedatangannya saya juga tidak menyadari kemana dia menghilang...
#Cerita Jumat Pagi
#Cerita Fiktif, Jangan dianggap Serius... 😅
#Persembahan Dari Kehidupan untuk Kehidupan  


MELUASKAN KESADARAN
Semakin luas kesadaran seseorang maka dia akan semakin mudah menerima dan memahami orang lain, termasuk menerima dan memahami orang yang memilih ideologi, keyakinan, prinsip hidup atau agama yang berbeda dengan dirinya.
Jika yang terjadi adalah kita makin merasa lebih baik dan memandang rendah orang lain, makin penuh penilaian dan justifikasi... bisa jadi bukan kesadaran kita yang semakin luas, tapi Pikiran kita yang semakin angkuh... 😅😅😅
Sudahkah kita menyadari ini... ???
 
 
MELAMPAUI PIKIRAN
Sejatinya melampaui pikiran itu sederhana, hanya karena apa yang ditulis atau disampaikan untuk melampaui pikiran di terima oleh pikiran maka pikiran tidak bisa dilampaui... 😅😅😅😅😅
Pikiran selalu mengikat dengan menetapkan tujuan, dan karena manusia menjalani hidupnya dengan menggunakan pikiran untuk bergerak dari satu tujuan ke tujuan yang lain manusia tidak tahu untuk bergerak tanpa tujuan.
Kalo kata leluhur... Berjalanlah tapi jangan langkahkan kakimu... 😅😅😅
Pointnya adalah Hadirlah bersama pergerakan realitas, bukan pergerakan tujuan yang dikendalikan oleh pikiran.  


BERGERAK MENUJU ESA
Sejatinya segala sesuatu bergerak menuju Esa...
Diri harus tetap berjalan sampai semua beda bisa terasa Esa...
Jalan lurus itu Menuju Esa, bukan memperjelas perbedaan...
Jalan Bahagia itu Mengalami Esa bukan Merasa Berbilang...
Jalan Kenikmatan itu Utuh dalam Esa bukan Serpihan dari Pecahan...
Jika masih banyak Rasa Beda di diri.... Jatuhkan...
Kemelekatan Rasa terhadap perbedaan keyakinan, beda pendapat, beda kepercayaan, beda suku, beda agama, beda ras, beda negara... dan berbagai perbedaan lainnya adalah tanda bahwa diri tidak berdiri di jalan yang lurus, tidak akan mengalami sejatinya bahagia, dan hanya akan ditemani Kenikmatan Semu.
Esa itu Ada dan Nyata... Diri hanya perlu Sadar didalamnya...
Jangan biarkan dirimu disesatkan oleh rimbunnya belukar perbedaan
 
 
Drama pagi ini...
Ibu : Bangunmi Maryam, pagimi... cepat pergi mandi baru pergi cari sekolah.
Maryam : Masih tengah malam ini ibu..
Ibu : Pagimi nak, itu adami matahari diluar... ayo bangun baru liat matahari di luar.
Maryam : Ndak bisa terbuka mataku ibu... Susah di buka.
Ibu : Bagaimana Maryam mau sekolah kalo pagi pagi dak bisa buka mata?
Maryam : Iyya ibu, nasuka tertutup mataku kalo masih mengantuk.
Saya : 😅😅😅😅😅😅😅😅😅😅😅😅😅😅😅😅😅😅  


JIKA
Jika Pemahaman Spiritualmu tidak Menghubungkanmu dengan Realitas atau Kenyataan...
Jika Pemahaman Agamamu tidak membuatmu Selaras harmoni dalam berkehidupan...
Jika Pemahamanmu akan Kebijaksanaan tidak membuatmu menerima Apapun yang dihadirkan Kehidupan...
Apa yang kau Pahami hanya Sampah yang akan membusuk dipikiranmu... Membusuk bersama Jasad yang juga akan mati dan berganti.
Yuk... hidup dalam Kehidupan... 😅😅😅😅😅  


AKAR KEHILANGAN
Akar dari ketakutan adalah Kehilangan, sehingga selama diri masih teridentifikasi kepada hal hal yang bisa hilang, pergi dan berganti maka ketakutan akan selalu ada.
Jika diri masih teridentifikasi dengan jasad, pikiran dan rasa maka ketakutan akan selalu ada... Intensitas ketakutan ditentukan oleh intensitas Kemelekatannya terhadap hal hal tersebut.
Maka kita menjalani anugrah kehidupan untuk Memperluas Kesadaran akan Identifikasi terhadap Diri... Jika sudah bisa mengidentifikasi bahwa diri adalah kehidupan ini, Diri adalah Realitas yang sedang berjalan moment ke moment ini tentu saja apapun yang terjadi pada jasad ini bahkan kematian sekalipun tak dipengaruhi lagi oleh Ketakutan karena Realitas Kehidupan ini Selalu ada, tak pernah hilang, pergi atau berganti.
Sayang banyak yang menyia nyiakan Anugerah kehidupan yang dimilikinya hanya untuk mengumpulkan hal hal yang tidak diperlukan untuk perluasan kesadarannya seperti materi, jabatan, pengetahuan, pahala, dan sejenisnya... sehingga hidupnya pun tak lepas dari Ketakutan ketakutan yang menghantui pikirannya. Bukannya memperluas kesadaran akan diri malah memperbesar Ego dan eksistensi Jasadnya yang akan Mati dan Hilang.
Akhir Kata, Siapa yang mengenali Dirinya akan Melampaui Ketakutan Ketakutannya... 🙏🙏🙏🙏💖  


JALAN MAJNUN
Kujalin benang benang kekaguman di pikiranku untuk Layla.
Kujahit kain kain kerinduan di benakku untuk Layla.
Kukira akan berpakaian Cinta... tapi ternyata ku terjebak di jaring jaring yang kubuat sendiri... Jaring jaring Karmapala.
Lalu aku bisa Apa? Selain menghadapi apa yang kubuat sendiri... Selain melampiaskan dan mengeluarkannya satu demi satu dari Ruang diriku semua Kekaguman, Semua Rindu, dan Untaian ilusi yang selama ini ku anggap Cinta... Lewat Puisi, Ode dan Nyanyian yang oleh Pikiranmu terlihat Agung seperti Cinta.
Aku Gila, Aku Sekarat, Aku Dicabik Cabik oleh Karmaku Sendiri... Tapi AKU sadari, hanya dengan Memeluknya aku bisa memeluk CINTAKU yang Sejati.
Ini Jalanku... Jalan yang Engkau Namai Jalan Si Majnun.
Sehingga tentu saja ketika aroma CINTA yang semerbak telah tercium olehku, ku tak akan peduli oleh Ocehanmu yang sedang terikat dipenjara Pikiran dan merasa Bangga dengan Ilusi yang engkau Lekati... Sejatinya engkau Mati, Yang hidup itu Pikiranmu, bukan DIRIMU... 😅😅😅😅😅  



 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar